Tampilkan postingan dengan label program. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label program. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2011

DCS versus PLC (part.3)

Posted by Eriksonj 1:33:00 AM, under | No comments

Membicarakan mengenai beda antara PLC dan DCS selalu saja akan campur aduk kalau tidak di set dari awal kerangka berbicaranya pada tataran definisi atau realitas/kemampuan hardware software architecture nya dalam mengerjakan tugas tertentu.

Kalau berdasarkan definisinya, maka : PLC= Programmable Logic Controller
PLC secara definisi adalah sebuah controller (processor) yang bisa diprogram yang fungsinya adalah menjalankan (execute) fungsi-fungsi logic. Logic yang dimaksud disini, melihat pada sejarah awal dibuatnya, adalah discrete/sequence function yang biasanya ditangani oleh relay. Dari awalnya para vendor yang mengusung nama PLC memang bergerak di bisnis discrete/sequence control.

DCS= Distribution Control System
Apapun system control yang terdistribusi (sebagai lawan dari DDC= direct digital control) dikategorikan sebagai DCS. Pada DDC seluruh control dilakukan dalam central processor sehingga apabila dia kegagalan, seluruh control plant akan ikut gagal. DDC, digunakan hampir, kalau tidak bisa disebut keseluruhannya sebagai Regulatory Control. Dan dari awalnya vendor-vendor yang mengusung nama DCS memang menggunakan produknya sebagai regulatory control.

Celakanya, para vendor yang ada pada masing-masing kubu ini mulai saling berebut pasar terutama vendor yang dulunya mengaku vendor PLC. Ini disebabkan karena kemampuan processor dan juga memori yang makin cepat dan harganya juga makin murah.
Mereka mulai mengkhianati dan mulailah ada cross application. Vendor yang dulunya mengusung nama PLC sudah mulai memasuki arena regulatory control karena mereka mulai pede dengan barang mereka. Demikian pula vendor yang dulunya mengusung nama DCS mulai tertarik memasuki arena discrete karena dari segi hardware saat ini sudah memungkinkan processor nya punya execution time yang cepat sehingga pasar discrete sudah bisa dimasuki.

Dengan demikian kita dapat ambil kesimpulan bahwa :

- DCS bukanlah PLC yang besar. Kita bisa mempunyai DCS dengan 300 I/O dan 2 Processor Module, dan PLC dengan 8000 I/O dengan satu atau dua Processor Module. System arsitektur DCS dan PLC berbeda.

- DCS juga bukan PLC-PLC yang terintegrasi menjadi satu system besar. Kata Controller pada PLC lebih ditujukan sebagai Logic Controller, sedangkan pada DCS lebih ditujukan sebagai Process Controller.
- Baik DCS maupun PLC adalah configurable dan reconfigurable.
- DDC dan PLC digabung ataupun tidak adalah dua system yang berbeda.
- Kita tidak bisa mensejajarkan sistem yang berbeda-beda, sedangkan untuk sistem yang samapun (sesama DCS atau sesama PLC) tidaklah mudah untuk mensejajarkan satu dengan yang lain. *

DCS versus PLC (part.2)

Posted by Eriksonj 1:27:00 AM, under | No comments

Pendapat lainnya mengatakan bahwa PLC tidak sama dengan DCS, PLC bukan sub sistem DCS dan DCS bukan PLC yang dibesarkan.

Bila dilihat dari awal terbentuknya kedua perangkat itu, PLC dibuat untuk menggantikan Relay Logic uang berfungsi sebagai shutdown system. DCS dibuat untuk menggantikan Controller (single loop, multi loop, close loop, open loop, etc), yang mengendalikan jalannya Proses (Proses Control). Proses Controller tentu tidak sama dengan Logic Controller, dan jangan dipisahkan, karena akan berbeda maknanya.

Pada pengembangannya, PLC mulai menggunakan Analog Input. Input dari Transmitter atau Thermocouple. Tapi coba kita lihat ke Software pemrograman logic. Semua analog input akan diubah menjadi Digital dan kembali menjadi parameter digital pada fungsi logic yang digunakan. Kalaulah PLC kemudian memiliki fungsi PID Controller, lebih cenderung diperuntukkan ke sistem dimana ESD dan proses control merupakan satu kesatuan Sequence yang tidak bisa dipisah. Misalnya Turbo Machinery Control.

Tetapi, kalau aplikasi anti surge, bukanlah ESD, dan lebih cenderung ke fungsi control (bukan logic). Bisa dilihat dari kasus sebagai berikut yang mungkin akan lebih terlihat dimana PLC dan DCS wajar diaplikasikan.

Pada sebuah kompresor yang menggunakan auto start untuk pompa lube oil (L.O). Pompa yang normal beroperasi adalah pompa turbine (PT) dan stand by adalah pompa motor (PM). Jika press LO turun karena sesuatu hal misalnya PT trip, setelah mencapai setting press PM akan auto start. Penggunaan sensor press LO berupa Electronic Smart Pressure Transmitter dan Press.Trans. menjadi Analog Input di PLC.

Kejadiannya adalah : Saat PT trip, PM terlambat start dan kompresor trip, karena turunnya press sangat cepat dibawah 1 detik. Setelah dilihat terjadi keterlambatan respon pada Press.Transmitter, walaupun damping sudah minimum. Ternyata memang semua peralatan berbasis microprosesor itu akan memiliki Dead Time. Untuk mengatasinya kembali digunakan Pressure Switch untuk sistem Auto Start LO. Apakah ada standard yang mengatakan sensor dari sistem logic ESD harus menggunakan Switch ?? Alangkah terlambat lagi jika input PLC berasal dari DCS.

Dari contoh diatas, apakah kita akan menggunakan DCS untuk fungsi PLC dan PLC untuk DCS ??


continue...

DCS versus PLC

Posted by Eriksonj 1:13:00 AM, under | No comments

Dalam berbagai artikel dikatakan bahwa PLC dan DCS mempunyai fungsi yang sama. Saat ini perbedaan DCS dan PLC telah kabur karena masing-masing telah saling mengambil peran. PLC mengambil sebagian peran DCS dan sebaliknya.

Ini sangat berbeda dengan yang dipahami selama ini bahwa :

- DCS (Distributed Control System) sesuai dengan namanya adalah sebuah Sistem Pengontrolan yang bekerja menggunakan beberapa controller dan mengkoordinasikan kerja semua controller tersebut. Masing-masing controller tersebut menangani sebuah plant yang terpisah. Controller yang dimaksud tersebut adalah PLC. Sedangkan PLC (Programmable Logic Controller) sesuai dengan namanya adalah sebuah Controller yang dapat di program kembali. Jika PLC hanya berdiri sendiri dan tidak digabungkan dengan PLC yang lain, System pengontrolannya dinamakan DDC.
Jadi, PLC adalah sub sistem dari sebuah sistem besar yang bernama DCS. Yang sejajar dalam hal ini adalah DDC dengan DCS dan FF, serta PLC dengan SLC, Microcontroller, dan sebagainya.



Benarkah demikian ?

Perkembangan awal PLC, difungsikan lebih ke logic Control (Discrete Input/Output). Tapi sekarang, PLC sudah mengakomodasi bukan hanya discrete Input/Output, di dalamnya sudah dapat menerima signal dari Thermocouple, RTD, Load Cell, dan sebagainya langsung ke I/O PLC.
Mungkin ini yang menjadi kabur, dimana fungsi tersebut sebelumnya dipegang oleh DCS, sekarang dengan PLC saja sudah bisa.
PLC pada dasarnya hanya pengontrol logika yang dapat diprogram. Walaupun pada perkembangannya PLC sudah dilengkapi analog signal, kemampuan aritmatiknya sangat terbatas dibanding dengan DCS.
Sedangkan DCS, Sistem Pengendali terdistribusi penekanannya ada di 3D nya, yaitu Distribusi tiga hal : Distribusi resiko kegagalan, distribusi lokasi dan distribusi pengendalian dan man power.

Secara tradisional, memang benar bahwa DCS lebih lambat responnya dibanding PLC. Karena memang untuk regulatory control tidak perlu respon yang terlalu cepat, karena kalau gagal masih ada safety shutdown system. Satu second overall masih cukup untuk hampir semua aplikasi.
Berbeda dengan safety application yang sering merupakan ladang PLC.
Sekarang, kelihatannya sudah berbeda karena hardware dari yang secara tradisional DCS vendor makin seperti PLC.
Ada yang mengatakan, PLC itu Install dan Forget it, kalau DCS kebalikannya, karena lebih bersifat kompleks dan perlu monitoring.

Kalau dilihat dari kompleksitas sistemnya, tergantung bagaimana konfigurasi sistem yang dipasang. Shutdown System Plant dengan menggunakan PLC-based juga bisa sangat kompleks, jauh lebih kompleks dibanding dengan DCS. Kalau tidak, mengapa para ahli sedemikian peduli sampai mengeluarkan IEC-61508, IEC-61511, IEC-62601 dan sebagainya.
PLC terbaru saat ini sudah sanggup untuk mengolah sejumlah besar informasi secara real time karena sudah memiliki RAM antara 2 - 6 MB, memiliki konektivitas dengan Ethernet dan dapat diprogram dalam bentuk teks terstruktur maupun ladder logic, dan dilengkapi dengan Human Machine Interface, HMI (misalnya Rockwell RSView), yang memungkinkan diadopsinya aplikasi Visual Basic, Hysys dan aplikasi lainnya.

Perbedaan PLC dengan DCS sekarang sudah tidak ada lagi, karena perkembangan teknologi yang sudah maju, dimana PLC sudah banyak yang berperan sebagai DCS, malah lebih dari itu PLC bisa berperan seperti SAP..!
PLC sering kali dipakai untuk safety system (trip system dari suatu equipment). Walaupun di DCS ada fasilitas Logic maupun sequence, kebanyakan untuk trip system, sinyal trip nya tetap di umpankan ke PLC, misalnya alarm Low Level dari level steam drum sinyalnya diumpankan ke PLC untuk men-Trip kan Boiler.

Jadi perbedaan PLC dengan DCS terletak pada kecepatan responnya.

Dari studi kasus, DCS bisa diganti dengan sistem PLC+MMI. Tapi biasanya, kalau di perusahaan modern ada dua sistem DCS dan PLC. PLC untuk Fire/Gas dan Shutdown System, DCS untuk Continuous Control. Juga banyak aplikasi yang lainnya, seperti spesifik kontrol untuk Compressor/Turbin, Vibration Monitoring, Flow Computer System, Optimization, dan lain-lain. Dan semua aplikasi itu bisa disambungkan ke DCS. DCS bisa memonitor semua sistem yang ada (PLC+MMI, flow computer, turbin control, optimization software, dan lain-lain). Mungkin sebenarnya bisa saja ditangani oleh satu DCS saja atau PLC+MMI saja.

Tetapi di perusahaan modern dibuat banyak sistem, salah satu alasannya untuk redundancy, kalau memakai satu sistem saja sekali mati, mati semua plant nya. Tetapi, kalau di industri makanan, mungkin cukup PLC+MMI saja, karena lebih murah daripada membeli DCS yang mahal.



Continue ...

Blog Archive

Blog Archive